meja makan mewah

sesuatu karya yang indah karya seni hasil karya anak bangsa

Senin, 21 September 2015

Kuliah abal abal 1200 calon wisudawan di grebek

08.58

Kuliah abal abal 1200 calon wisudawan  di grebek 
 
Ketua Tim Evaluasi Kinerja Perguruan Tinggi Kementerian Ristek Dikti Prof. Dr. Supriadi Rustad menangkap basah wisuda ilegal oleh empat perguruan tinggi swasta ( STKIP Suluh Bangsa, STT Telematika, SIT ) dalam lingkup Yayasan Aldiana di Universitas Terbuka Convention Centre (UTCC), Pondok Cabe, Jakarta Selatan.
   Kuliah abal abal 1200 calon wisudawan  di grebek
pengrebekan wisudawan abal abal
 

“Dalam Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) minimal ada empat mafia pendidikan tinggi, salah satunya yang kami tangkap basah ini, ” kata Ketua Tim Evaluasi Kinerja Perguruan Tinggi Kementerian Ristek Dikti Prof. Dr. Supriadi di sela-sela penyidikan terhadap pelaku wisuda ilegal tersebut di UTCC, Jakarta, Sabtu (19/9/2015).
Menurut Supriadi, keempat mafia tersebut sudah dipetakannya dan hari ini salah satu mafia tersebut terungkap.
Supriadi menyebut angka 1200 orang calon wisudawan yang tertangkap basah yang digarap mafia Perguruan Tinggi Swasta yang bernaung dibawah Yayasan Aldiana pimpinan Prof,DR Alimuddiin AlMurtala,MM,M.MPd.
Sementara Rektor Universitas Terbuka, Tian Belawati, mengatakan wisuda ilegal yang dilakukan di gedung Universitas Terbuka, Sabtu (19/9/2015) tidak ada hubungannya dengan Universitas Terbuka. Mahasiswa yang diwisuda juga bukan mahasiswa Universitas Terbuka.
"Jadi yang digerebek bukan wisuda Universitas Terbuka, melainkan kegiatan wisuda Perguruan Tinggi lain, yang diadakan di Universitas Terbuka, di mana si penyelenggara itu menyewa gedung balai sidang untuk pelaksanaan wisuda," kata Tian saat dihubungi, Sabtu.
Pihak penyewa gedung, Yayasan Aldiana Nusantara menyatakan telah menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dan hendak melakukan wisuda terhadap ratusan mahasiswanya. Namun berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Kementerian ternyata yayasan itu tidak melakukan pembelajaran tersebut.
Pelaksanaan wisuda juga tanpa izin dan pemberitahuan kepada Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dan pangkalan data pendidikan tinggi.
"Mereka melakukan pembelajaran kelas jauh dan setelah ditelusuri ternyata tidak ada pembelajaran. Jadi seperti jual-beli ijazah. Ini pelanggaran," kata Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik Perguruan Tinggi Supriadi Rustad di kampus UT.
Wisuda abal-abal tersebut diikuti beberapa perguruan tinggi. Antara lain Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telematika, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha, serta Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Suluh Bangsa.
Yayasan Konsorsium Nasional dipimpin Badawi berkantor di kota Palopo merupakan perpanjangan tangan Mafia PTS ini di Indonesia Timur yang sukses beroperasi berkat adanya MOU dengan Pemerintah Daerah Luwu. Dan dalam masa 2013-2015 telah mengeluarkan tiga angkatan. Sudah ribuan pemegang Ijazah palsu ini mulai dari tukang kebun, kepala desa sampai guru-guru TK,SD,SMP,SMA.
“Proses wisudanya ilegal dan pesertanya kasihan sekali, mereka dari golongan masyarakat yang tidak tahu sehingga bisa bergabung dalam wisuda tersebut,” katanya.
Masih menurut Supriadi, ketika ditanya mereka juga tidak bisa menjawab dari kampus mana.
“Mereka hanya bisa menunjuk spanduk yang dipasang di dalam ruangan wisuda saja dan tidak tahu nama kampusnya,” ujarnya.

Menurut Supriyadi, dia sudah melakukan pemanggilan terhadap Ketua Yayasan Aldiana yang menyelenggarakan wisuda itu dan Ketua yayasan mengakui wisuda ini ilegal dan mahasiswanya diakui tidak melakukan proses belajar yang benar.
“Ini adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh Alimudin sebagai Ketua yayasan,” katanya sambil menunjukkan surat pernyataan di atas meterai.
Surat pernyataan tersebut, kata Supriyadi, intinya tidak akan memberikan ijazah kepada peserta wisuda, bersedia mengembalikan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh peserta, dan bersedia tidak mengulangi melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bersedia taat azas menuju perguruan tinggi yang sehat.
“Kami akan melakukan kajian, dalam satu minggu ke depan akan keluar hasilnya. Yang jelas kasus ini sangat berat,” tuturnya.
Menurut Supriadi, para mahasiswa yang mengikuti wisuda tersebut adalah korban dan mereka bukan mahasiswa benaran, tapi mahasiswa abal-abal.
“Tapi mereka dirugikan secara finansial,” tambahnya.
Oleh karena itu, dalam pernyataan kedua Ketua yayasan bersedia mengembalikan dana yang sudah diterima. “Itu yang penting,” ujarnya.
Menurut Supriadi, langkah pembinaan ke depan sebagai perguruan tinggi swasta pembinaannya ada di Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis).
Sekretaris Pelaksana Kopertis 3 Putut Pujogiri yang hadir dalam kesempatan sidak tersebut mengatakan kalau perguruan tinggi mau mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada, yaitu UU No 12/2013 tentang perguruan tinggi, PP No 4/2014 tentang pengelolaan perguruan tinggi, dan Permen No 49/2014 tentang Standar Nasional Perguruan tinggi meskipun sedang diperbaiki, tapi di situ sudah ada kaidah-kaidah hukum perguruan tinggi harus melaksanakan pembelajaran kepada para mahasiswanya.
“Untuk Sarjana Strata 1 (S-1) minimal 4 tahun,” katanya.
Kalau hal itu tidak terpenuhi, ujarnya, berarti tidak mengikuti kaidah-kaidah yang ada.
“Itu artinya proses belajar mengajar itu tidak benar,” tuturnya.
Menurut dia, berbagai temuan dalam kasus wisuda ilegal Yayasan Aldiana yang melibatkan empat perguruan tinggi swasta itu akan disampaikan kepada Menristek Dikti untuk memperoleh masukan-masukan.
Menurut Putut, jenis pelanggaran yang dilakukan oleh empat perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam Yayasan Aldiana, adalah tidak melaporkan kegiatannya kepada Kopertis, tidak melaporkan ke Pangkalan Data Perguruan tinggi (PDPT), mereka melakukan pembelajaran klas jauh yang setelah ditelusuri tidak ada pembelajaran.
“Jadi seperti jual beli ijazah saja,” katanya.
Animo masyarakat yang tinggi untuk mendapatkan Ijazah oleh sejumlah perguruan tinggi dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan finansial yang besar.
Sebelumnya, jelas Supriadi, STIA Yappan pada tgl 9 September telah mewisuda 460 0rang tak terdeteksi tapi kerja mafia pts dapat dijejaki dan dilaporkan terdapat kelahiran luwu 5 orang a.n Hadijah Gangka Salama, Sunarti, Normawati, Jumiati,Sangguni yang S2 tapi yang S1 banyak, kelahiran Buah, Balirejo,Walenrang,luwu, Seriti, Lalong, Batu Standuk,Sambirejo,Palopo, Batu Merah, Camba, Maros,Soppeng,dan lain-lain daerah Sulawesi yang tak dikenalnya. Umumnya S2 berasal dari STKIP COkroaminoto Palopo,UT,dll.
Prof. Dr. Supriadi Rustad, Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik Perguruan Tinggi yang adalah Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro Semarang saat berpisah dengan luwurayanetmenitipkan pesannya kepada Pemda Di Indonesia Timur harus berhati-hati terhadap Ijazah yang berasal dari perguruan tinggi di Kopertis 3,4,5,6,7(*)

0 komentar

Mebel Murah Mewah Jepara | Toko online Furniture. Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Find Us On Facebook

Follow Us

Cari Blog Ini

promo

assalammualaikum

Mebel Murah Mewah